Kepedulian
Gelapnya Malam di Tengah Hutan

Di sebuah kelompok masyarakat terpencil ada sebuah kebiasaan yang menarik untuk diperhatikan, yaitu pada saat sebuah keluarga ingin mengetahui apakah anak laki-laki mereka sudah cukup dewasa atau belum. Seorang anak laki-laki yang dianggap sudah cukup umur akan melalui satu ujian, yaitu berada di tengah hutan sendirian di tengah kegelapan malam.
Siang hari sebelumnya, orang tuanya akan memanggil seorang laki-laki dewasa yang belum dikenal oleh anaknya. Laki-laki dewasa ini akan membawa anaknya berjalan dengan mata tertutup, menyusuri jalan yang sempit dan jauh, lalu mereka akan memasuki hutan yang lebat dengan pohon-pohon yang besar.
Ketika hari sudah menjadi gelap, tutup mata anak tersebut dibuka, dan orang yang mengantarnya kemudian meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan dewasa apabila ia tidak berteriak atau menangis sampai fajar menyingsing. Hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar itu membuat malam makin gelap. Tak ada seberkas sinarpun yang menembus kegelapan itu, bahkan sang anak itupun tidak dapat melihat dirinya sendiri, begitu gelap dan menakutkan. Di tengah kegelapan yang menakutkan itu, anak laki-laki tersebut mendengar suara-suara yang begitu menyeramkan. Lolongan serigala membuat bulu kuduk berdiri. Gesekan daun dan dahan menimbulkan suara yang semakin menakutkan. Desiran angin dingin membuat badan menjadi kaku, seakan dapat membuat orang mati berdiri. Tetapi, apapun yang terjadi ia harus tetap diam. Ia tidak boleh berteriak ataupun menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut. Waktu terasa sangat lama, satu detik bagaikan satu jam. Ia tidak berani memejamkan matanya untuk menanti pagi merekah. Keringat keluar terus menerus membasahi tubuh, sekalipun udara sangat dingin.
Setelah berjam-jam bertahan dalam kegelapan malam, saat yang dinanti itupun segera tiba. Matahari mulai memancarkan cahayanya dan rasa takutpun berubah menjadi kegembiraan. Hanya saja, ada satu hal yang mengagetkan ketika anak laki-laki itu melihat sekelilingnya, yaitu ia melihat ayahnya berdiri tidak jauh di belakangnya, dengan posisi siap menembakkan anak panah, dengan senjata yang terselip di pinggang, menjagai anaknya sepanjang malam. Jika ada ular atau binatang buas yang lain maka ia dengan segera melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya sambil berharap agar anaknya tidak berteriak atau menangis.
--ooOoo--
Pernahkah Anda merasa Tuhan begitu kejam karena membiarkan Anda sendirian dalam menghadapi persoalan yang sangat berat? Sesungguhnya Tuhan ada di dekat Anda, siap menolong Anda, dan siap menjagai Anda dari segala bahaya. Sadarlah bahwa Anda harus dewasa rohani dan jadikan setiap masalah menjadi pemicu kedewasaan rohani Anda.
Tuhan menyertai kita semua.

0 Response to "Kepedulian"
Posting Komentar